THE GREATEST SHOWMAN: NANGIS BAHAGIA 

source: imdb.com
Akhir Desember 2017 lini masa twitter saya ramai oleh sebuah film musikal baru berjudul The Greatest Showman --selanjutnya akan saya singkat TGS--. Langsung saja dong didorong keingintahuan demi eksis saya mencari dan menonton trailernya di youtube. Setelah ulangan ketiga  akhirnya saya memutuskan bahwa ini film menarik walau gadapet piring cantik. Selain karena saya menyukai genre film seperti ini, Zac Efron dengan senyum mautnya seolah berbicara:

"Yakin gamau ketemu aku? katanya kangen?" 
#halugaadaobat

Sebelum saya nonton, sebenarnya timeline juga ramai membahas satu film lokal karya mantan komika. Kebingunan dan kegalauan menyergap saya karena: mau nonton yang mana dong? uangnya cukup nggak ya? Zac Efron jeles ga ya hatiku terbagi gini? *tampol diri sendiri*

Memanfaatkan kekuatan netizen sayapun membuat polling di instastories. Final result memang menunjukkan TGS menang vote, tapi tentu saja saya akhirnya memilih menonton DUA-DUANYA. πŸ’Έ πŸ’Έ πŸ’Έ πŸ’Έ πŸ˜‚ πŸ˜‚


TGS adalah film musikal garapan sutradara Michael Gracey yang diproduksi oleh 20th Century Fox. Film ini terinspirasi oleh kisah nyata P.T. Barnum dalam membangun Barnum & Bailey Circus. Barnum yang diperankan oleh Hugh Jackman adalah anak seorang penjahit miskin yang jatuh cinta pada anak tuannya Charity Hallet. Karena ekonomi dan gengsi Mr Hallet tidak merestui hubungan keduanya. Hal itu membuat Barnum yang memiliki keinginan kuat tertantang untuk membuktikan diri kalau dia pantas untuk Charity. Bertahun-tahun kemudian setelah mereka dewasa Barnum akhirnya menikahi Charity dengan janji akan membuatnya hidup dengan layak. 

Namun setelah mengalami PHK dari kantornya, Barnum sangat terpukul dan merasa tidak bisa menepati janjinya kepada Charity. Ia akhirnya mencari cara untuk menghasilkan uang yaitu dengan membuat sebuah pertunjukan circus. Banyak tantangan datang namun itu semua tidak menyurutkan niat dan ambisi besarnya. Berhasilkan Barnum mewujudkan mimpinya? Bagaimana ia menghadapi tekanan dari orang-orang yang membencinya? 



Berlatar tahun 1800-an, TGS awalnya adalah sebuah biopic film yang kemudian berubah menjadi musical film. Pada debut pertamanya sebagai sutradara, Michael Gracery berhasil membuktikan kemampuannya diluar bidang visual effect yang biasa digeluti. Hal tersebut dibuktikan dengan disabetnya gelar juara pada Heartland Film Festival dalam kategori Truly Moving Picture Award. So, untuk cinematografi nggak usah diragukan lah ya. Shoot per-scenenya epic dan enjoyable banget. 

Dari segi skenario, jujur saya menikmati. Setiap percakapan sangat luwes dan tidak monoton. Ditunjang kemampuan akting yang level dewa, semua pemain sangat baik menyampaikan perannya. Saya tidak menemukan peran tidak penting disini. Nah tapi pembangunan beberapa karakter terasa kurang digali lebih dalam lagi. 

Elemen selanjutnya yang tidak boleh luput adalah kostum dan make up!! Bukan hal yang mudah menemukan kostum yang pas dan unik sesuai tema circus. Saya standing appaluse untuk tim art-nya. Detail perorangnya sangat diperhatikan. Membuat saya percaya kalo memang ada orang seperti itu dan wajar.

Tahukah kamu jika ternyata pada bagian awal dan ending film ini menggunakan kostum dari Feld Entertaiment sebagai pemilik dari Ringling Brothers and Barnum & Bailey Circus yang juga digunakan saat pertunjukkan "The Greatest Show on Earth". πŸ’₯




Sebagai film musikal, nggak afdol kalo saya tidak membahas musiknya. Dan coba tebak apa yang saya rasakan?
SAYA JATUH CINTA 

Yaiyalah!! Composer musiknya sendiri yaitu Benj Pasek and Justin Paul, yang ternyata juga menulis lagu untuk Lala Land (2016). Aaakkkk!! Saya benar-benar bersemangat saat mengetahuinya. Kalau kamu sangat menyukai Lala Land maka kamu dipastikan akan jauh lebih suka dengan musik di TGS ini. Musiknya sangat fresh dan membuat saya senyum-senyum dan humming bahkan sampai hari ini! πŸ’“πŸ’“
*playing the soundtrack over and over again*

Hal lain yang perlu diperhatikan disini adalah koreografi yang juara yaampun ga ngerti lagi monangis jelasinnya. Setiap koreo dalam lagu terasa sangat pas dan bikin pingin ikutan joget! meskipun joget jempol aja bisanya.  Semuanya epic dan tau nggak sih kalo adegan trapeze Zendaya dilakukan sendiri olehnya alias tanpa stuntman!!! 😱 Gila dah keren banget ini yaampun ga ngerti lagiii belajar di mana sih mbak Zen.. πŸ˜‚


Sebenernya saya agak malu ngomongnya tapi yaudahlah ya ngomong aja. Saya beberapa kali menitikkan air mata. Iya, saking bagusnya. dasar cengeng .  Selain nangis yang gak bombay-bombay banget alias masih elegan, saya juga selalu menggoyangkan kaki ketika musik berputar. Oya dan senyum-senyum kayak pas lagi jatuh cinta. Iyaa beneraaaannn. Nah tapi kebetulan saya duduk di tengah mas-mas yang gatau lempeng ajaa gitu nontonnya. Padahal saya heboh banget huhu maaf ya mas. 😝

Pelajaran yang saya inget banget di film ini adalah bagaimana kita memperjuangkan mimpi. Apapun halangannya, tetaplah percaya dengan mimpi itu. Unsur kekeluargaannya juga kental serta ditambah pesan bagaimana seharusnya kita tidak malu terhadap diri sendiri, bagaimana kita menerima diri kita yang saya juga sedang belajar sampai sekarang. 

Di akhir film ada sebuah quote:

Dan ya, saya rasa kita semua mengamininya. Jika kamu belum sempat menonton, cepetan nontonn! Mumpung masih sayang eh tayang di bioksop.πŸ˜†
Rasakan juga pengalaman paling membahagian saya dan semoga juga menjadi kebahagiaan kamu di awal tahun ini. πŸ™Œ
P.s. saya sudah nonton dua kali lho 😜

Selamat senyum-senyum dan nangis bahagia pas keluar dari bioskop! 😁😁

I give 9/10


cheers,
F. 

Comments

Popular posts from this blog

Virtual Photoshoot 101